Revolusi Amazon & Senjakala Toko Buku

Oleh Deddy Arsya

“Saya membuat toko buku ini seperti seorang pria akan menulis sebuah novel, membangun setiap kamar seperti sebuah bab, dan saya suka orang-orang untuk membuka pintu dengan cara mereka membuka sebuah buku, buku yang mengarah ke dunia sihir dalam imajinasi mereka”, kata George Whitman, ketika mendirikan Shakespeare and Company, sebuah toko buku di Paris, pada 1950.

Tapi dunia telah jauh berubah sejak pertama kali toko buku legendaris itu berdiri. Kini riwayat toko buku seakan-akan telah sampai pada fase senjakala. Todd Leopold, dalam "The death and life of a great American bookstore" mencatat bagaimana toko-toko buku ambruk: toko buku terbesar kedua di Amerika, Borders No. 1, misalnya, yang telah beroperasi sejak 1970, harus ditutup pada 2011. Bersama keambrukannya, ditutup pula 399 toko buku lain di bawahnya. “Nothing held back!” begitu tertulis di dinding kaca toko buku yang telah berusia 40 tahun itu. Pada dinding kaca yang sama tertulis, “Now Hiring: Apply Online at Borders.com!” Buku-buku yang terampil berbaris di rak-rak atau menumpuk pada display, penjaga yang siap melayani, troli-troli yang siap digunakan. Gambaran-gambaran yang bergairah itu tengah ambruk di tengah gejala baru: internet.

Ketika pada bulan Juli 1995, Jeff Bezos meluncurkan Amazon.com, sebuah revolusi praktis telah terjadi pada industri toko buku. Marie Lebert dalam A short history of eBooks mengatakan: Jeff  telah melakukan studi pasar yang membuatnya menyimpulkan bahwa buku adalah "produk" terbaik untuk dijual di internet. Sejarah kemudian mencatatkan Amazon sebagai toko buku online pertama dengan pertumbuhan cepat. Ketika Amazon mulai mengudara, Jeff mempekerjakan hanya 10 karyawan dan memiliki katalog 3 juta buku. Tetapi lima tahun kemudian, pada November 2000, Amazon melejit tak terbendung: 7.500 karyawan, katalog 28 juta item, 23 juta klien di seluruh dunia. Dan sampai tahun 2004, Amazon telah memiliki enam anak perusahaan: di Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Kanada dan China.

Amazon bekerja melalui virtual jendela laman web, dengan semua transaksi dilakukan melalui internet. Buku-bukunya disimpan di fasilitas penyimpanan yang besar sebelum dimasukkan ke dalam kotak dan dikirim melalui pos. Ia meluncurkan website-nya sebagai katalog buku-buku online yang menarik dan mudah dipakai. Sebagai pengecer online, Amazon dapat menawarkan harga yang lebih rendah dari toko buku lokal, pilihan yang lebih banyak, dan kaya akan informasi produk. Pelanggan bisa berlangganan ke mailing list untuk mendapatkan ulasan buku baru oleh penulis favorit mereka, atau buku-buku baru di topik favorit mereka, dengan puluhan topik untuk dipilih. Kehadiran Amazon telah memungkinkan lebih banyak buku dijual ke lebih banyak orang dari pengecer lain dalam sejarah perdagangan buku.

‘Revolusi’ itu telah berdampak luas sampai dua dasawarsa kemudian. Toko buku online kini mengejala bagai gurita, termasuk di Indonesia. Bahkan setiap penerbit membuka ‘tokonya’ sendiri di jagat maya. Kedatangan internet, dan terutama layanan broadband berkecepatan tinggi untuk rumah maupun kantor, telah mengubah lanskap ritel. Jika sebelumnya konsumen biasanya mengunjungi toko buku  setempat untuk melakukan pembelian, kini internet memberikan kemudahan dan kecepatan memesan hampir semua buku dari kursi kantor maupun rumah. Apalagi, ‘search engine’ memungkinkan konsumen untuk mencari tempat termurah untuk memesan buku yang diinginkan. Kemudahan itu menciptakan lebih banyak orang dapat membaca dan menulis lebih banyak buku (ebook dan cetak) daripada waktu lainnya dalam sejarah, kata Philip J. Clements dalam Christian retail industry research.
***
Tapi bisakah kita ‘melupakan’ toko buku ‘konvensional’ begitu saja?

Ketika internet belum menjadi gelaja massa seperti beberapa dasawarsa belakangan, toko buku memainkan peran yang menentukan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan pembentukan iklim intelektual. Jika para tokoh besar selalu dikaitkan dengan buku, jarang diingat dari mana mereka mendapatkan buku-buku itu? Hatta, misalnya, memiliki berpeti-peti koleksi. Tetapi di manakah koleksi-koleksinya itu diperoleh? Dicatat dalam Memoir, perkenalan Hatta dengan buku bermula pada sebuah ‘toko buku antiquariaat di sebelah societeit “Harmoni”’ di Jakarta, tempat pamannya, Mak Etek Ayub, membelikannya buku N. G. Pierson, Staathuishoudkunde, H. P. Quack, De Socialisten, dan Bellamy, Het Jaar 2000. “Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku,” tulis Hatta. Di Eropa, kegandrungan Hatta pada buku semakin menggila. Pada 1920, Hatta memborong banyak sekali buku. “Mungkin di waktu itu aku sendirilah seorang mahasiswa tingkat pertama yang memiliki buku begitu banyak.” Hatta membelinya di toko buku Otto Meissner di Hamburg, di saat nilai mata uang Jerman sedang jatuh akibat krisis pascakekalahan dalam Perang Dunia I, yang memungkinkan Hatta, dengan mata uang Gulden yang dimilikinya, membeli sebanyak mungkin buku.

Hatta hanya salah satu contoh bagaimana kaum intelektual dan toko buku telah bersahabat karib.

Namun begitu, semasa pra-Amazon, bisnis toko buku tidak pernah menjadi bisnis yang menguntungkan: “... this was never a good busines,” kata Seth Godin dalam artikel bertajuk "The end of the independent bookstore (and a new golden age for books)". Bisnis toko buku tidak menjanjikan prospek yang gilang-gemilang sebagaimana membuka toko listrik, toko obat, toko kelontong, atau toko-toko lain yang menjual kebutuhan jamak semua orang, kata Azhar Muhammad, pendiri Sari Anggrek, suatu kali.  Toko buku memiliki pelanggan yang justru jauh lebih terbatas, terutama dalam masyarakat dunia ketiga seperti Indonesia di mana minat baca dan minat akan literasi belumlah berkembang. Pelanggan toko buku adalah sebuah kelas terbatas dalam masyarakat, kelas terdidik perkotaan tentu saja, yang senantiasa tergantung pada ketersediaan bahan bacaan.

Tapi, sekalipun begitu, nyaris pula hanya toko buku yang menyediakan bacaan yang relatif lengkap, komplit dari berbagai bidang ilmu, dan yang terpenting: up-date. Toko buku telah menyebarkan secara luas ketersediaan bacaan untuk kalangan akademisi yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Menumbuhkan toko buku berarti mengumpulkan hasil kekayaan intelektual dalam sebuah tempat dan kemudian menyebarkannya yang telah secara langsung atau tidak mendorong minat baca dan juga mendorong orang untuk membeli buku. Motifnya jika dicermati tidak semata ekonomi, tetapi juga bermotif hendak mencerdaskan, berupaya menumbuhkan ‘sadar literasi’, dalam artian hendak memperkaya tradisi ilmiah dengan mendirikan ‘lumbung padi’ bagi memenuhi otak kaum intelektual yang lapar akan bacaan. Para pengusaha toko buku, dengan demikian, telah memerankan fungsinya di tengah masyarakat tidak saja sebagai seorang saudagar, tetapi juga di sisi lain stimulator kelahiran intelektual.

Tapi peran itu kini telah semakin digeser oleh toko buku online.

Untuk dapat terus bertahan, di tengah gejala baru yang ‘mengancam’ itu, belakangan toko-toko buku mulai ‘mereformasi’ dirinya. Toko-toko buku telah membuat diri mereka menjadi konektor, tempat-lokal di mana orang-orang pintar pergi untuk bertemu satu sama lain dan berbagi ide-ide mereka, dengan adanya kegiatan pameran buku, bedah buku, seminar buku, diskusi buku, dan kegiatan lainnya. Secara tidak langsung kegiatan-kegiatan tersebut merupakan media promosi dan pengenalan buku kepada masyarakat sehingga perdagangan buku akan lebih berkembang.

Selain itu, toko-toko buku juga memberikan fasilitas-fasilitas yang memanjakan pengunjung sehingga menjadikan pengunjung loyal dan puas dengan pelayanan mereka; toko buku seperti ini menambah fasilitas-fasilitas tambahan seperti fasilitas cafe, wifi, pertunjukan musik, dan sebagainya. Kini makin banyak keluarga yang memilih toko buku untuk bersantai membawa anggota keluarga ketimbang sekedar membeli buku an sich. Bahkan ada beberapa toko buku kini sengaja dikonsep sebagai tempat rekreasi. Hal ini menyebabkan toko buku sudah tidak lagi mengkhususkan menjual buku saja, tapi lengkap dengan menjual barang-barang lain. Tidak hanya alat-alat tulis, tapi juga 'barang-barang supermarket'.

Apa mau dikata, kemajuan teknologi telah memungkinkan kita membeli buku hanya dengan mengusap-usapkan jari pada layar sambil berjongkok di kakus. Tetapi toko buku, dengan segala magnet yang dimilikinya, akan tetap menarik-narik kita untuk berkunjung.

Pandai Sikek, 2016

Comments