Penyair di Dasar Sungai
Oleh Deddy Arsya
Qu Yuan bunuh diri untuk sebuah negara yang menolaknya.
Dia penyair Tiongkok abad ke-3 Masehi. Terjemahan sajak-sajaknya dalam bahasa kita beberapa tahun yang lalu diterbitkan dalam tajuk Purnama di Atas Bukit, Antologi Puisi Tiongkok Klasik. Sebuah buku yang memuat 17 penyair terkenal dalam sejarah Tiongkok pra-modern.
Qu Yuan hidup ketika daratan Tiongkok tengah memasuki apa yang dalam sejarah disebut sebagai Zaman Negeri Berperang. Kerajaan-kerajaan kecil tumbuh banyak, berbiak bagai bayi tikus. ‘Ibukota’ adalah basis dari dinasti-dinasti kecil itu, tempat negara dikendalikan tangan kekaisaran secara sentralistik. Qu Yuan berasal dari salah satu di antaranya. Dia menyaksikan perang datang silih-berganti antara satu dinasti dengan dinasti lain. Perang antar ibukota yang melelahkan.
Sebagaimana para penyair zaman dinasti pada umumnya, Qu Yuan juga politikus. Dengan kemampuannya itu, dia menjadi penasehat raja, penasehat yang terampil. Tetapi, sebagai penasehat, dia terlalu berterus-terang. “Orang yang tak lurus bagaimana bisa dipercaya? Manusia tanpa kebaikan mana dapat jadi panutan?” tulis Qu Yuan dalam sajaknya yang panjang dan terkenal, “Lisao” yang diterjemahkan menjadi “Keluhan Resah”.
Qu Yuan benar, pembohong bagaimana bisa dijadikan penasehat? Tetapi dia lupa, dia hidup di zaman ketika berterus-terang tidaklah begitu penting; sikap itu justru membahayakan. Sikap yang diinginkan dan disukai dalam suasana politik zamannya adalah sikap merendahkan diri di depan kekuasaan, membungkuk-bungkuk, kapan perlu dengan cara berdusta.
Tetapi sikap yang terakhir itu justru yang dikutuk Qu Yuan. “Bermuram durja larut dalam kekecewaan, kini kutanggung sendiri derita nestapa. Lebih baik mati terlunta dalam pembuangan, takkan rela merendahkan diri berlaku nista,” demikian tulisnya.
Laku ‘merendahkan diri’ dianggap Qu Yuan sebagai laku yang nista. Tetapi laku seperti itu justru laku yang massif pada zamannya. Maka Qu Yuan dianggap ‘lain’. Dia kemudian menjadi sasaran cercaan dari saingan-saingan politiknya yang penjilat dan pengambil muka. Hingga akhirnya, pintu istana tertutup untuknya. Jabatannya sebagai penasehat kaisar dicopot. Dalam sajaknya, Qu Yuan menulis, “Kuminta pada penjaga istana bukakan aku pintu, dia hanya terpaku di sana sembari menatapku.” Dia dicampakkan dan diabaikan oleh negara yang justru dibelanya.
Dan Qu Yuan, atas sikapnya itu, memang akhirnya dilemparkan ke pembuangan. Meninggalkan ‘ibukota’, tanah air. Kerinduan pada kampung halaman, dianggap sebagai tema penting dari sajak-sajak Qu Yuan dalam periode pembuangan ini. “Tiba-tiba kulihat kampung halaman di bumi sana, pengawal dirundung duka kuda pun terjangkit rindu, meringkuk memalingkan muka enggan beranjak maju,” tulis Qu Yuan dalam sajak yang sama.
Di masa pembuanganlah itulah ‘ibukota’ ditaklukkan. Pasukan musuh yang kuat merengsek memasuki ibukota dan menghancurkannya tanpa sisa. Dan Qu Yuan bersedih tiada ampun ketika mengetahui tanah airnya ditaklukkan dengan kejam. Untuk merayakan kesedihan atas kehancuran ‘ibukota’ itulah dia bunuh diri.
***
Qu Yuan menceburkan dirinya ke dalam sungai dengan sebuah batu besar terikat pada badan. Batu itu membawa badannya tenggelam hingga ke dasar sungai yang dalam. Orang-orang kemudian mencari jasadnya, mencoba menyelami sungai, tetapi tidak pernah berhasil menemukannya.
Qu Yuan lenyap, hilang dalam air. Menjadi serpihan mungkin. Pengagumnya memberi makan ikan di sungai itu agar ikan-ikan di sana selalu kenyang dan dengan begitu tidak akan memakan jasad Qu Yuan. Memberi makan ikan di sungai di mana Qu Yuan tenggelam menjadi tradisi masyarakat Tiongkok bahkan hingga kini. Qu Yuan menjadi icon dari sikap patriotisme.
“Sudahlah!” tulis Qu Yuan, menutup sajaknya. “Di seluruh negeri tiada orang mengerti diriku, mengapa ibukota selalu ada dalam ingatanku? Bila memang tidak diperlukan lagi kebijakan bermoral, aku akan menyusul di mana arwah suri teladanku tinggal!”
Qu Yuan mungkin terlalu berharap lebih pada negara: mungkinkah untuk berharap ‘kebijakan bermoral’ lahir dari politik yang di sana-sini pincang? Qu Yuan juga terlalu cepat ingin mati, untuk apa dia bunuh diri? Ibukota telah hancur, dan orang banyak tidak mengerti dirinya. Tidakkah sebuah kota yang telah hancur bisa dibangun kembali? Juga jika alasannya semata adalah yang terakhir, tidakkah kaum cerdik-cendikia, di mana-mana, adalah mereka yang memang tidak selalu terpahami oleh orang banyak?
***
Qu Yuan memang bunuh diri. Tetapi untuk apa seorang penyair mati dengan cara serupa itu? Putus asakah dia pada kehancuran negaranya, putus asakah dia karena tidak didengarkan? Atau dia putus asa menyaksikan perang antar ibukota yang tiada putus-putusnya dan mengesampingkan moralitas? Lalu kenapa ke dasar sungai dia pergi mati?
Penyair Kriapur di abad kita sekarang, tidak mati bunuh diri, tetapi tampaknya dia berhasil melukiskan apa yang digelisahkan Qu Yuan beratus abad silam. “Aku ingin menjadi batu di dasar kali, bebas dari pukulan angin,” tulis Kriapur dalam sajaknya, Aku Ingin Menjadi Batu di Dasar Kali, yang terkenal itu.
Penggalan “pukulan angin” barangkali bisa diterjemahkan sebagai ‘suara orang ramai yang hegemonik’, kekuasaan yang memaksa, atau gelagat zaman yang dibentuk oleh suara orang kebanyakan yang ribut. Suasananya jelas hirup-pikuk. Sementara “batu di dasar kali”, adalah gambaran bagi keadaan yang ‘sunyi dan diam ke dalam’. Pilihan yang terakhir terkesan putus asa, tetapi mungkin juga tidak pada kondisi tertentu.
Dalam garis panjang sejarah, tidak penyair saja yang memilih ‘jalan kesunyian itu’ ketika berhadapan dengan ‘negara yang ribut’.
Hasan bin Ali, putra Fatimah satu-satunya yang masih tersisa setelah Husein dipancung di Padang Karbala, juga lebih memilih “mengembalakan domba di atas bukit” daripada terlibat dalam perseteruan antar faksi yang memang semakin hebat di tengah masyarakat muslim abad pertama hijrah. Perang saudara antar faksi-faksi Islam telah meletus beberapa kali, dan menumpahkan begitu banyak darah. Para sahabat yang sama-sama dulu semajelis kini saling mengacungkan pedang di medan laga.
Dan Hatta juga mengundurkan diri sebagai wakil presdien di tengah ‘puncak ribut’ Orde Lama. Ketika persaingan partai semakin menyesakkan.
Ada memang yang tidak tahan di tengah hiruk-pikuk, gonjang-ganjing politik, dan lebih memilih menyepi. Mereka memilih jalan itu, tentu, belum tentu karena putus asa. Tetapi, tentu, tidak seradikal Qu Yuan yang memilih jalan kesunyian yang abadi, kesunyian kematian.
Hasan bin Ali, misalnya tetap jadi tempat bertanya bagi banyak tabi’ tabi’in tentang soal-soal politik mutakhir. Sementara Hatta, sekali pun tidak menduduki jabatan apa-apa lagi dalam negara pasca-mengundurkan diri, masih dengan setia mengoreksi kepincangan politik zamannya. Tidakkah Demokrasi Kita yang terkenal itu ditulis dan dipublikasikan setelah dia mengundurkan diri?
Mereka tetap menyimpan harapan sekalipun di tengah ancaman ketidakmungkinan.
Padang, 2013
(Dipublikasikan Koran Padang Ekspres Tanggal (?))
Comments
Post a Comment