Citra Digulis dalam Roman-roman
oleh Deddy Arsya
Hidup kita ditentukan bukan oleh ide-ide besar, tetapi oleh hal-hal yang (dianggap) remeh-temeh: cinta yang tak sampai, kasih yang lerai, asmara yang terbentur tembok realitas yang keras...
Tokoh-tokoh berikut ini adalah manusia-manusia yang keras berjuang menggelorakan semangat sosialisme dalam gelanggang perjuangan kebangsaan, tetapi terpapar dihantam nasib percintaan yang personal.
Anda bisa membaca itu (di antaranya) pada roman Pandoe Anak Boeangan karya Abdoe’lxarim M.S.. Roman ini adalah salah satu di antara 5 roman yang bercerita tentang kehidupan kaum Digulis yang termaktub dalam buku Cerita dari Digul yang disunting Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kita itu.
Pandoe Anak Boeangan adalah sebuah kisah asmara seorang Digulis di belantara Digul yang penuh malaria. Alih-alih berbicara tentang isme-isme besar, roman ini justru berbicara tentang sengkarut cinta antar insan-manusia. Pandu, tokoh roman ini, pada mulanya adalah seorang pegawai pemerintah yang mapan, berasal dari keluarga biasa yang mendapat jodoh anak seorang juru tulis. Sejak itu karirnya melonjak. Tetapi Pandu bercerai dengan istrinya karena ketidaksepahaman. Melarikan diri dari kesedihan hati, Pandu pergi ke Semarang, dan terbawa arus Serikat Islam yang sedang bergejolak. Pandu bertemu dengan Erni, salah seorang aktivis perempuan pada organisasi progresif Islam itu, dan mereka menjalin cinta, untuk kemudian memutuskan berumah-tangga. Tapi Pandu sekali lagi dikecewakan ketika Erni menolak mengikutinya ke Digul ketika pemerintah kolonial membuangnya...
Di Tanahmerah, Pandu memilih menyendiri, melepaskan diri dari ikatan orang ramai. Entah kenapa, lalu cerita menelikung: Pandu terlibat upaya melarikan diri. Bersama lima orang sesama Digulis, dia kabur dari tanah pembuangan itu. Tetapi, dalam pelarian, malang menimpa Pandu, kakinya terkena jerat babi yang dipasang Kayakaya—salah satu suku asli Papua yang dianggap kanibal. Bukannya hendak dimakan, Pandu malah diselamatkan suku tersebut. Hingga kemudian dia dinikahkan dengan anak gadis Kayakaya. Pandoe tertangkap dan dikembalikan ke kamp.
Pandu tidak mau mengakui kepada teman-temannya kalau dia telah menikah dengan perempuan Kayakaya. Dia merasa malu mengakui kenyataan tersebut.
Pandu adalah tokoh komunis yang ambivalen: menginginkan kesamaan kelas masyarakat tetapi juga membedakan ras manusia. Mencita-citakan masyarakat di mana ketidaksetaraan kelas terhapus, tetapi juga pada saat yang sama mengamini ketidaksetaraan bangsa. Dia dibuang karena berjuang untuk sosialisme-komunisme yang agung, tetapi ketika berhadapan dengan suku Kayakaya-Papua dia memandangnya sebagai bangsa yang masih primitif—oleh sebab itu rendah.
Bersambung...
Comments
Post a Comment